give the best for the one you love…
Sayap Yang Tak Pernah Patah
Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah.
Kasih selalu sampai di sana.
Apabila ada cinta di hati yang satu,
pastilah ada cinta di hati yang lain kata Rumi, sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain. Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya,
sedangkan kita melihat fakta yang lain.
Kalau cinta berawal dan berakhir pada Tuhan, maka
cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya,
pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki.
Selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat.
Kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan,
atau lemah dan melankolik saat cinta kandas karena takdir-Nya.
Sebab di sini kita justru sedang melakukan pekerjaan jiwa yang besar dan agung,
mencintai. Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta
tertolak, yang sesungguhnya terjadi
hanyalah kesempatan memberi yang lewat.
Hanya itu.
Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang.
Selama kita memiliki cinta, memiliki sesuatu yang dapat kita berikan, maka
persoalan penolakan atau ketidaksampaian menjadi tidak relevan.
Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya
bertanya :Apakah yang akan kuberikan ? Tentang
kepada siapa sesuatu itu diberikan, itu menjadi
sekunder.
Jadi kita hanya patah atau hancur karena kita
lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah.
Seperti ini : kita mencintai seseorang, lalu kita
menggantungkan kebahagiaan hidup dengan hidup
bersamanya.
Maka ketika dia menolak untuk hidup
bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan.
Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi
karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan
kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita.
Sesungguhnya dalam bahasa iman tak ada istilah
cinta bertepuk sebelah tangan. Karena tangan
yang menepuk kita sebagai balasannya adalah tangan Tuhan.
NB:
Isn’t it inspirational or what ?
:)
.
